Tunaikan Sayangmu Sebelum Engkau Mencintai

sumber foto: www.hotel-r.net
Kasih sayang kita pada seseorang yang kita cintai tak bisa setengah-setengah. Harus tulus ikhlas mencintainya karena Allah swt, jika rasa sayang kita setengah-setengah, jangan harap menunggu feedback atau umpan balik yang tulus dan ikhlas dari seseorang yang kita cintai, karena setiap sesuatu yang terlahir, jika kembali, akan sama caranya saat sesuatu itu terlahir. Sederhananya adalah apa yang kita beri itu yang kita terima, apa yang kita buat itu yang akan kita nikmati, dan apa yang kita cari itu yang akan kita temui.

Walau kadar kasih sayang yang dimiliki setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi rasanya tetap sama, yaitu menyejukkan, seperti kita saat berada di bawah pepohononan yang rindang, yang daun-daunnya masih kelihatan basah, setelah ditetesi embun. Rasa sejuk inilah yang pasti dimiliki oleh setiap orang, maka jangan heran jika ada orang yang merindukan kasih sayang, berarti Ia sedang kekeringan, ingin disejukkan oleh hembusan kasih sayang kita, yang tercipta dari hati, kemudian berubah menjadi budi pekerti yang indah.

Jadi, dari bebarapa alasan di atas, kita menyandari bahwa dalam menyayangi seseorang yang kita cintai tak boleh setengah-setengah. Darinya itulah kita harus menunaikan sayang kita sebelum mencintai seseorang, karena bila diibaratkan menunaikan rasa sayang pada seseorang adalah rukun percintaan yang harus kita laksanakan, sebelum melangkah ke tangga percintaan, yang bisa saja jaraknya sangat jauh untuk kita jalani, atau lebih. jelasnya, menunaikan sayang adalah syarat awal untuk menjadi pencinta yang wajib dicintai.

Adapun hal-hal yang harus kita lakukan dalam menunaikan sayang adalah tidak pernah berbohong pada diri sendiri. Jika memang kita mencintainya maka katakan sejujurnya karena dari kejujuran itu cinta suci akan tumbuh, berbohong pada diri sendiri juga bermakna sebagai peningkatan kualitas diri, dengan tidak melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya melukai diri sendiri, artinya bahwa hasil dari kejujuran akan berbuah pada kasih sayang kita pada seseorang yang kita cintai.

Rasa sayang timbul dari kepesonaan kepada kepribadian sesorang, yang lama ke lamaan timbullah rindu yang menggebu-gebu ketika sesorang yang disayang tak berada di samping kita, tak hadir memberi senyum, tak hadir berbagi tawa, atau sekadar ingin melihat wajahnya yang elok rupawan. Begitulah rasa sayang, sebuah elemen dalam diri seseorang yang mampu mengilusi dunia menjadi taman bunga, semua tampak indah di mata kita jika telah menelan elemen sayang itu ke dalam hati kita, maka berkasih sayanglah.

Serta tunaikan kasih sayang kita, kepada yang dirindukan, bayar semuanya yang di inginkan rindu. Tapi sebenarnya rindu itu tak menginginkan banyak, hanya kepasa
tian dan apa adanya, yang kita punya berikan walau tak banyak seperti senyum tulus dan wajah tulus, itu sudah luar biasa bagi rindu dan teruslah memberinya, karena kesinambungan adalah sebuah kepastian serta itu menjadi bukti bahwa kita memang yakin akan rasa sayang yang kita punya. Untuk itulah bayarlah rasa sayang kita dengan apa adanya karena itulah kejujuran dalam akademi percintaan yang mahal harganya.

Jadi, sekarang mari kita menunaikan sayang kita sebelum mencintai seseorang. Sudah siapkah sayang kita untuk kita ajukan pada cinta yang murni, sudah tidak adakah noda yang mengotori sayang kita, jika masih ada, cinta tak akan sepenuhnya menerimanya, sayang kita tak akan melebur bersama cinta itu, hambar sendiri oleh noda-noda, tak bisa melekat karena noda-noda itu mengantarainya. Maka, tunaikan sayang kita segera.

Terbanglah Setinggi Mungkin dan Jangan Takut Ketinggian

sumber foto: www.favim.com
Betapa indah burung-burung yang terbang tinggi di atas sana, Ia bebas melayang jauh melintasi benua dan menembus samudera, tidakkah kita ingin seperti burung-burung itu, yang melihat langsung keindahan warna pelangi. Jika iya, terbanglah juga setinggi mungkin yang kita bisa, raih semua impian dan cita-cita dan tetaplah memohon ridho Allah swt, karena ridho-Nya yang menjadi sayap kita terbang, merasakan kelembutan awan dan hangat bulan, maka, mari kita terbang tinggi bersama impian kita, kemudian hinggap pada yang kita inginkan.

Semua hal berawal dari niat, jika memang niat awal kita untuk terbang bersama impian kita, lakukan segera. Jangan tunggu angin tenang atau menunggu badai reda, karena itu hanya akan memperlambat gerak kita dan tak mempengaruhi penerbangan kita, jika memang niat kita untuk terbang tinggi, rintangan apapun yang akan kita temui, semuanya akan kita hadapi, tak peduli petir dan angin topang, selama kaki kita kuat mencengkram, terjatuh pun kita bangun lagi, dan terbang tinggi lagi.

Mungkin nyali kita seketika mengecil ketika kita tengadahkan wajah kita ke hamparan langit biru. Anggapakan kita sungguh itu sangat jauh, tak mungkinlah rasanya bila kita terbang di atas sana. Begitupun ketika kita melihat seseorang yang sama dengan impian kita, telah lebih dahulu terbang dengan impiannya dan telah mendapatkan pijar bintang, hentikanlah ketidakmungkinan itu, jangan biarkan merasuki otakmu, karena pada dasarnya Ia terbang karena punya sayap, kita pun punya, tapi mungkin sampai hari ini kita belum memakainya untuk terbang.

Maka, untuk terbang tinggi atau dalam hal ini berbahagia ketika meraih impian dengan cita-cita, gunakan sayap baik-baik dan latihlah menghempaskan sayap-sayapnya, rawat bulu-bulunya agar tak rontok ketika di udara. Untuk terbang jauh kita harus mencari gunung yang tinggi sebagai landasan pacu. Jadi, sebelumnya kita harus memulai dari bawah impian kita kemudian mendaki sedikit demi sedikit, sampai pada puncak gunung itu, jika kita telah berada di atasnya, meluncurlah dan hempaskan sayap-sayap kita.

Hal yang perlu diingat ketika kita telah terbang tinggi adalah jangan takut ketinggian. Maksudnya, ketika kita telah berada pada impian kita, pasti ada banyak kegagalan yang setia saat selalu mengintai, untuk itu jangan takut pada kegagalan atau dalam hal ini ketinggian, karena ketika kita telah terbang walau jaraknya sangat tinggi kita akan tetap bisa bernafas, gunakan udara di atas langit itu untuk kita terbang lebih tinggi. Bahkan, jika badai menerjang kita akan terhempas dan terbang lebih jauh lagi.

Ingatlah selalu warna-warna indah sebuah pelangi yang terlukis di langit biru. Maksudnya adalah bayangkan selalu jika kita telah mendapatkan kebahagiaan dunia dan semoga juga di akhirat kelak, senyum, tawa, haru gembira berbaur menjadi satu, satu kebahagiaan kita, jika kita telah terbang tinggi nantinya. Itu pasti kita mendapatkannya jika kita telah menggunakan sayap kita untuk terbang sebagaimana mestinya atau lebih jelasnya adalah terbang jauh dan tak melupakan daratan, tempat kita bernaung kala gelap malam datang.

Mari, mulai hari ini dan seterusnya nanti, janjikan dalam hati bahwa kita akan terbang tinggi, jauh di atas bumi. Sayap-sayap kita lebar, kemana pun kita ingin terbang, sayap kita akan tetap kuat menopang, karena kita terbang bukan sendirian, ada banyak harapan dan doa yang mengekor di belakang kita. Doa dan harapan Orang tua kita selalu mengiringi jauh ke atas sana, untuk itulah terbanglah jauh sejauh yang kita bisa dan jangan pernah takut akan ketinggian.

Akan tetapi, sesekali kita harus menoleh ke bawah. agar kita tahu bahwa masih banyak orang-orang di bawah sana yang juga ingin terbang tinggi. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan kita jika sekarang, sayap kita telah berkibar jauh di samping awan. Jika kita sudah menguasai sayap kita, kita akan bisa membantu orang yang ada di bawah sana untuk terbang juga, maksudnya adalah jika kita telah ahli mengarahkan mimpi kita, orang-orang yang sama dengan impian kita bisa membatunya juga untuk terbang tinggi.

Agar sayap kita bisa selalu kuat untuk terbang, selalulah berdoa pada Allah swt, karena kehendak-Nyalah yang menentukan terwujud atau tidaknya suatu impian, namun, doa dari mulut kita belumlah cukup, perlu doa dari usaha kita. Doanya adalah bekerja ikhlas demi bermanfaatnya impian kita pada orang lain, karena usaha yang tak ikhlas hanya seperti sungai yang kering, jauh memanjang namun tak ada airnya, oleh karena itu jangan pernah merasa besar di hadapan-Nya karena hanya Allah swt yang Maha Besar, impian kita tak lebih dari sebuah pemanfaatan karunia yang diberikan-Nya untuk mencari keberkahan.

Keberkahan hidup seperti awan lembut dan empuk. Jika kita berada di atasnya seakan ketenangan nyata bagi kita, segar menyegarkan, untuk itulah kita terbang ke hamparan langit biru, agar embun dari awan-awan yang jatuh dari langit langsung membuat kita luluh pada kebahagiaa. Maka terbanglah, raih segalanya yang kita impian dan  Jangan takut ketinggian.

Luka Itu Menyembuhkan

sumber foto: www.imyryani.wordpress.com
Sakit yang begitu perih kita rasakan saat kita terluka. Entah luka fisik ataupun luka fisikis, saat kita mengalaminya kita begitu resah dan mengatakan kenapa semua ini harus terjadi padaku, apalagi jika perihnya tak tertahankan, karenanya kita mengalami strees berat, dan membuat kita lupa dimana kita berpijak, kita lupa dimana kita terlahir, serta kita lupa dimana kita hidup dan terkuburkan nantinya. Jawabannya satu, itu di dunia yang sangat sementara ini, untuk itu, bersabarlah sedikit, rasakan perihnya lukamu dengan hati.

Luka bisa saja terasa manis bila kita mencapurnya dengan gula keiklasan. Walau luka itu terasa pahit, seakan meminum segelas kopi tubruk yang tak ada gulanya, akan tetapi bila kita menaburinya dengan gula, segelas kopi tubruk itu akan terasa lezat, begitupun dengan luka yang kita rasakan, akan terasa lezat dan nikmat bila kita menaburinya dengan gula keikhlasan, ikhlas menerima luka itu, dan berusaha mengobatinya dengan berbuat yang lebih baik kepada orang lain, karena kita percaya ada Allah swt yang mengatur perputaran kehidupan ini.

Lebih jauh lagi kita memahami sebuah luka yang teriris di diri atau di hati kita. Tahukah Anda bahwa luka itu menyembuhkan, contohnya : kita pernah menginjak semut, lantas membuatnya mati padahal, saat kita menginjaknya semut itu sedang dalam mencari makanan untuk anak-anaknya, jadi wajarlah dikemudian hari ada seeokar semut juga yang menggigit kita, dari gigitannya kita menyadari perihnya. Saat kesadaran itulah kita menjadi sembuh, sembuh dari sifat tamak dan angkuh dan tak ingin mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Tak ada manusia yang tak pernah terluka, karena kita diciptakan di dunia untuk melakukan perjalanan ke negeri yang abadi, karena kita berjalan pasti ada banyak hal yang melukai kaki kita. Akan tetapi, jangan pernah berhenti teruslah berjalan karena luka itu akan sembuh dengan sendirinya, saat udara segar dalam perjalanan kita menerpanya, membuat luka yang tadinya basah akan menjadi kering dan sembuh.

Tentu, luka yang dimaksud disini adalah ujian dan cobaan yang kita alami dalam kehidupan, saat kita menghadapinya cobalah dengan berpikir bijak, dan melihat ujian dan cobaan itu dari berbagai sisi, banyak-banyaklah melihat sisi baiknya jangan terbuai oleh sisi buruknya, karena pada dasarnya sisi baik akan menghantarkan kita pada pola pikir yang baik pula. Olehnya itulah syukurilah jika kita sedang terluka, karena pada saat itu kita akan belajar berpikir bijak dalam menghadapi suatu permasalah hidup.

Jangan menganggap luka hanya terdiri dari sakit dan perih. Karena sakit dan perih hanyalah kulit luar dari sebuah luka, namun jauh di dalamnya tersimpan kenikmatan yang akan kita rasakan jika luka itu telah sembuh. Seperti ganasnya ombak, di belakangnya ada laut yang tenang dan pulau yang indah, luka dan perih hanyalah sebuah ilusi dunia yang membuat manusia cengeng dan selalu ingin dimanja-manja dengan kenikmatan, sakit dan perih itu jugalah yang membuat kita melenceng dari kebenaran karena kita takut mendapatkan luka dan keperihan.

Maka, jika kita ingin kuat dalam hidup ini banyak-banyaklah terluka, teriris dan kesakitan. Karena sebenarnya kita hanya bisa menerima luka, dan tak akan mampu melukai. Tentu Anda sudah mengetahui bahwa luka yang saya maksud adalah ujian dan cobaan Allah swt, dan jangan pernah menangis ataupun mengeluh jika kita terluka, karena itu hanya akan membuat diri kita semakin lemah, teruslah berjuang dan jangan pernah menyerah.

Cinta Itu Mendekatkan, Jangan Sampai Menyesatkan

sumber foto: www.greatblogid.blogspot.com
Cinta seperti apa sih yang selama ini kita jalani bersama pasangan, atau hanya sebatas cinta tanpa kasih sayang, atau hanya sebatas merindukan ketika mengalami kekurangan, ujung-ujungnya habis manis sepah dibuang, untung-untung kalau masih dibuang kalau sudah dihilangkan bisa bahaya ceritanya. Maka dari itu kita harus jeli mendalami kehidupan percintaan, jangan sampai hanya seperti permainan balon setelah meletus sudah tak ada lagi yang bisa kita rangkai menjadi balon seutuhnya, begitulah juga dalam kasus percintaan.

Tali cinta yang telah kuat mengikat susah itu dilepaskan kembali, walau sebenarnya yang diikat tali cinta itu hanyalah cinta palsu, cinta yang seperti itu berpura-pura merasa tak bisa lepas, padahal kapan saja Ia lari dari ikatannya kemudian mengikatkannya kembali, jika hal itu yang sedang kita alami berarti, perasaan kita telah dinistakan oleh konsep keberpura-puraan, maka potonglah tali cinta yang seperti itu, tak akan membuat kita saling terikat ketika badai masalah ingin melepaskannya.

Cinta bukan sebatas kasih sayang tetapi juga harus punya keyakinan, agar tidak menyesatkan ke jalan yang tidak diinginkan. Sebaliknya, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang mendekatkan pada Allah swt, karena sejatinya Dia-lah sang Maha Cinta, jika selama ini kita hidup dalam masa percintaan, lantas tak membuat diri kita dekat dengan-Nya cobalah kita renungi, bahwa buat apa kita merasakan cinta dengan pasangan tanpa ada keberkahan. Padahal, cinta diciptakan untuk kemuliaan.

Dari sekarang, terlebih dahulu kita pahami baik-baik arti cinta yang sesungguhnya, gali semua makna yang ada didalamnya, kemudian kita amalkan setiap tafsirannya, lalu, kita akan menyelam dalam itu dengan sendirinya, merasakan manisnya. Untuk melakukan itu kita harus berfikir dengan hati, dengan rasa bukan logika, karena melalui kita dapat berfikir jernih, dan tanpa hawa-nafsu yang menyusup kedalamnya, rasakan rasa kita, ketahui apa rasanya, dengan itu kita akan tenang dengan cinta, melalui bunga surga yang mekar dalam hati kita.

Jika kita telah mendapatkan cinta yang seperti itu, peluklah dengan erat, seerat nadimu dengan dirimu. Dekaplah sedekap engkau meraih mimpimu, ciumlah dengan lembut selembut sutra yang terurai dalam hatinya. Cinta yang seperti itu bagaikan cinta yang tumbuh di taman surga, selalu ada kenikmatan yang dahsyat di dalamnya karena ridho Allah swt menyertai peroses cinta seperti itu, kita akan selalu mengalami kerinduan yang susah untuk disuarakan, karena kedekatan pada nilai-nilai keTuhanan bukan menyesatkan.

Akan tetapi, ada banyak hal yang harus kita waspadai dalam membangun cinta yang mendekatkan. Kenapa? Karena cinta yang mendekatkan itu seperti lem, semua yang menyentuhnya akan menempel padanya, debu kotor bisa saja menempel , maka dari itu perhatikan baik-baik hal-hal yang ada disekelilingnya, jangan sampai menempel dan mengotorinya contohnya : aktivitas yang kita lakukan selama membangun cinta yang mendekatkan, apakah aktivitas itu bermanfaat untuk kesinambung bangun cinta, jika baik teruskan, jika buruk tinggalkan.

Maka dari itu teguhkan hati kita dalam membangun cinta yang mendekatkan. Kuatkan akarnya dengan keyakinan, kuatkan batangnya dengan kesabaran, hijaukan daunnya dengan keikhlasan mencintai, buahnya cinta yang mendekatkan pada Sang Maha Cinta. Kita sendiri yang akan memetik buah itu, enak bukan, jika buah yang kita nikmati langsung dari pohonnya, pohon cinta yang kita tanam sendiri yang selalu tersirami oleh rahmat Ilahi.

Kita bisa saja mencintai sesuati tapi jangan sepenuh hati, sisahkan lebih banyak kepada Allah swt, agar cinta yang kita miliki itu mendekat pada-Nya, tidak jauh. Karena jika jauh cinta kita hanya akan menyesatkan dan tidak membawa berkah, ujung-ujungnya hanya akan mendatangkan kemudharatan, semoga tidak, karena fitrah manusia memang untuk saling mencintai dalam cinta-Nya, bukan mencintai dalam yang dilarang-Nya.

Berhenti Menutup Diri, Ayo Kenali Jati Diri


sumber foto: www.adjiegunt.blogspot.com
Jika ada orang yang bertanya tentang jati dirinya, menurut saya itu salah, jati diri pada diri seseorang itu sudah ada, masalahnya itu hanya berada pada pengenalan jati diri. Jika kita telah mampu mengenali jati diri kita, kita akan mampu lebih mengetahui peran dan fungsi kita dalam kehidupan ini, karena jika tidak, kita bagikan seonggok batu rapuh yang semakin hancur ditiup angin, jati diri adalah bekal dari Allah swt yang harus kita manfaatkan ke arah kebaikan menuju jalan yang diridhoinya, bukan sebaliknya.

Namun, jangan harap jati diri kita akan muncul bila diri kita hari ini masih tertutup, maksudnya kita jauh dari kebebasan berfikir, terlalu kaku dalam menghadapi setiap problema kehidupan yang sedang kita alami, padahal ini hanya dunia santai saja, santai dalam hal ini adalah tidak memusingkan sesuatu yang dirasa tidak perlu dipusingkan, karena itu hanya akan menambah beban. Akibatnya, diri kita selalu menghindar dari masalah atau selalu menutup diri.

Janganlah seperti siput, dirinya sangat tertutup, alhasil gerak hidupnya lambat, tak ada perubahan dalam hidupnya hanya menghitung hari mengganti cangkangnya. Walau, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tetap, sikap menutupi diri akan semakin menjauhkan kita pada menganali jati diri, dan membuat kekurangan kita semakin bertambah serta, membuat kelebihan kita semakin berkurang, betapa rileksnya kita saat semua yang telah Allah swt anugrahi ini kita syukuri dengan cara tidak menutup diri, dan mengenali jati diri kita yang sesungguhnya.

Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam mengenali jati diri adalah lihat baik-baik agar kita tidak tertipu, maksudnya apakah yang kita kenal adalah sudah diri kita yang sesungguhnya, atau hanya sekadar ego yang menjelma. Jika ego berhentilah, itu bukan diri kita, cirinya-cirinya jika kita telah mengenal jati diri kita adalah kita tak merasa berat melakukan segala hal yang kita inginkan dalam artian postif, atau tidak kehilangan stabilitas jiwa.

Jati diri pun berfungsi sebagai penentu jalan hidup kita. Jika jalan hidup yang kita pilih menjadi dokter misalkan, maka tentu sebelumnya jati diri kita memang menginginkan menjadi seperti itu. Tinggal, usaha kita mengisi jalan hidup itu dan membuat jati diri kita semakin bersemangat dalam menjalaninya, jika diibaratkan jati diri ini bagaikan saudara kembar yang sangat akrab, saking akrabnya mereka saling melengkapi ke arah yang benar, tentu jika kita mengenalinya, rupanya, tubuhnya, matanya, kepalanya, kakinya dan seterusnya, artinya. kenali semua apa yang ada di dalam jati diri kita.

Setelah mengenalnya lalu apa lagi?, setelah adanya sebuah perkenalan ada jalinan yang terhubung antara keduanya, jalinan itu bisa saja putus bisa saja terus menyambung. Maksudnya, kita dengan jati diri kita bisa saja tidak berhubungan walau sudah mengenal, karena kita tidak menuruti keinginannya, tak ada keinginan dari jati diri itu jelek atau tidak baik, semuanya baik karena terlahir dari dasar hatimu dan itulah yang menghidupkannya.

Manusia sejati adalah manusia yang telah mampu mengenal jati dirinya sendiri. Kenapi sejati ? Karena Ia telah mampu mengenal dirinya ,yang sesungguhnya, maka dari itu berhentilah menutupu diri, kenali jati diri dan wujudkanlah mimpi-mimpi kita.

Teruslah Berjalan, Walau Pelan


sumber foto: www.lifestyle.liputan6.com

Hari ini dan seterusnya sampai nanti adalah perjalanan kita sendiri, menuju pada hidup yang abadi setelah mati. Masihkah kita menyianyiakan hidup yang singkat ini, menyepelekannya seakan kita akan hidup selamanya. Tidak, tengoklah ketika hujan turun, kita tak ingin berbasah-basah di bawahnya, padahal itu cuma air, kita mencari tempat untuk berteduh bukan, begitulah juga kita dalam menjalani hidup ini, pasti kita akan dibasahi cobaan dan ujian tetapi, bermanfaatlah kepada sesama di tengah ketabahanmu menghadapi ujian itu.

Di dalam sebuah perjalanan, tak ada suasana yang betul-betul sama semua berbeda. Terkadang kita menemui bunga, terkadang kita menemui lubang atau terkadang kita menemui kedua-duanya. Soal indah tidaknya suasana itu tergantung kita yang menilainya, cara menilainya harus bagus, yaitu dengan mensyukurinya. Karena itulah hidup adalah perjalanan, ada banyak suasana yang mengganggu hati kita, namun, ada banyak suasana juga yang membuat hati kita jadi bahagia. Jadi, sabar dan syukur adalah penyelarasnya.

Allah swt telah menyediakan apa yang seharusnya kita kembangkan, untuk kita manfaatkan sebagai alat kesinambungan kehidupan. Dalam mengembangkannya kita harus terlebih dahulu mempunyai mimpi, mimpi yang besar dan tinggi, agar kita tidak berleha-leha dalam meraihnya, jika mimpi kita kecil dan pendek, kita tak butuh banyak perjuangan untuk meraihnya, akibatnya hasilnya pun sama dengan apa yang kita perjuangkan. Maka susunlah mimpi-mimpi karena batu batanya sudah, tinggal kita yang akan menyusunnya, menjadi sebuah bangunan yang berguna bagi manusia.

Adapun langkah awal yang harus kita punya adalah niat yang tulus. Tulus pada apa yang kita korbankan demi kepada sebuah perbaikan, karena niatlah yang akan membawa kita pada keberkahan dunia dan di akhirat kelak. Niat yang tulus juga yang akan menuntut kita pada pekerjaan yang tak melelahkan, karena kita bekerja, berkarya untuk kebakan bukan pada imbalan, kalau pun harus ada imbalan itu hanya penunjang bukan tujuan.

Langkah ke dua adalah kesadaran yang kuat pada mimpi kita. Kita harus menyadarinya bukan sebatas mimpi belaka, sadari diri kita tentang indahnya bila mimpi kita itu terjuwud, ada banyak senyuman yang akan kita lihat nanti, senyum haru dan bahagia menyelimuti hasil dari perjuangan kita. Keringat yang dulunya mengucur deras, terbayar menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan, tentu semua itu akan kita rasakan bila kesadaran akan mimpi kita itu tumbuh dan berkembang di dalam emosi kita, camkan baik-baik.

Langkah ke tiga buat rencana, rencana yang belum pernah dibuat oleh orang lain dalam mewujudkan mimpinya, mimpi kita boleh saja sama tetapi dalam mewujudkannya caramu harus beda, dengan caramu sendiri mimpi-mimpimu akan terwujud seperti apa yang kamu inginkan, tetapi, kita harus terlebih dahulu belajar dengan cara orang lain. Setelah itu rumuskan caramu sendiri, cara yang liar dan bebas tapi tidak merugikan orang lain. Cara itu bisa kita dapatkan melalui suara hati kecil kita, dengarlah apa yang dikatakannya.

Langkah ke empat mulailah beraksi, kejar dan gapailah mimpi-mimpi kita, seperti kita mengejar jambret yang mengambil barang berharga kita. Kita harus mengejarnya sampai dapat, kalau pun tak dapat, setidaknya kita telah berusaha untuk menggapainya, dan hasil dari usaha itu akan ada.gantinya, walau entah darimana. Namun ingat, jalan di dunia ini banyak bukan hanya satu, jalan-jalan itulah yang akan dilalui hasil dari usaha kita. Jadi, mulailah beraksi dan tetaplah berusaha.

Setelah melalui beberapa langkah tadi, berarti kita telah berjalan. Setapak demi setapak langkahkan kaki kita dan teruslah berajalan walau pelan menuju mimpi-mimpim indah, pasti pada akhirnya kita akan meraihnya. Hari ini dan seterusnya sampai nanti adalah perjalanan kita sendiri, menuju pada hidup yang abadi setelah mati. Masihkah kita menyianyiakan hidup yang singkat ini, menyepelekannya seakan kita akan hidup selamanya. Tidak, tengoklah ketika hujan turun, kita tak ingin berbasah-basah di bawahnya, padahal itu cuma air, kita mencari tempat untuk berteduh bukan, begitulah juga kita dalam menjalani hidup ini, pasti kita akan dibasahi cobaan dan ujian tetapi, bermanfaatlah kepada sesama di tengah ketabahanmu menghadapi ujian itu.

Di dalam sebuah perjalanan, tak ada suasana yang betul-betul sama semua berbeda. Terkadang kita menemui bunga, terkadang kita menemui lubang atau terkadang kita menemui kedua-duanya. Soal indah tidaknya suasana itu tergantung kita yang menilainya, cara menilainya harus bagus, yaitu dengan mensyukurinya. Karena itulah hidup adalah perjalanan, ada banyak suasana yang mengganggu hati kita, namun, ada banyak suasana juga yang membuat hati kita jadi bahagia. Jadi, sabar dan syukur adalah penyelarasnya.

Allah swt telah menyediakan apa yang seharusnya kita kembangkan, untuk kita manfaatkan sebagai alat kesinambungan kehidupan. Dalam mengembangkannya kita harus terlebih dahulu mempunyai mimpi, mimpi yang besar dan tinggi, agar kita tidak berleha-leha dalam meraihnya, jika mimpi kita kecil dan pendek, kita tak butuh banyak perjuangan untuk meraihnya, akibatnya hasilnya pun sama dengan apa yang kita perjuangkan. Maka susunlah mimpi-mimpi karena batu batanya sudah, tinggal kita yang akan menyusunnya, menjadi sebuah bangunan yang berguna bagi manusia.

Adapun langkah awal yang harus kita punya adalah niat yang tulus. Tulus pada apa yang kita korbankan demi kepada sebuah perbaikan, karena niatlah yang akan membawa kita pada keberkahan dunia dan di akhirat kelak. Niat yang tulus juga yang akan menuntut kita pada pekerjaan yang tak melelahkan, karena kita bekerja, berkarya untuk kebakan bukan pada imbalan, kalau pun harus ada imbalan itu hanya penunjang bukan tujuan.

Langkah ke dua adalah kesadaran yang kuat pada mimpi kita. Kita harus menyadarinya bukan sebatas mimpi belaka, sadari diri kita tentang indahnya bila mimpi kita itu terjuwud, ada banyak senyuman yang akan kita lihat nanti, senyum haru dan bahagia menyelimuti hasil dari perjuangan kita. Keringat yang dulunya mengucur deras, terbayar menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan, tentu semua itu akan kita rasakan bila kesadaran akan mimpi kita itu tumbuh dan berkembang di dalam emosi kita, camkan baik-baik.

Langkah ke tiga buat rencana, rencana yang belum pernah dibuat oleh orang lain dalam mewujudkan mimpinya, mimpi kita boleh saja sama tetapi dalam mewujudkannya caramu harus beda, dengan caramu sendiri mimpi-mimpimu akan terwujud seperti apa yang kamu inginkan, tetapi, kita harus terlebih dahulu belajar dengan cara orang lain. Setelah itu rumuskan caramu sendiri, cara yang liar dan bebas tapi tidak merugikan orang lain. Cara itu bisa kita dapatkan melalui suara hati kecil kita, dengarlah apa yang dikatakannya.

Langkah ke empat mulailah beraksi, kejar dan gapailah mimpi-mimpi kita, seperti kita mengejar jambret yang mengambil barang berharga kita. Kita harus mengejarnya sampai dapat, kalau pun tak dapat, setidaknya kita telah berusaha untuk menggapainya, dan hasil dari usaha itu akan ada.gantinya, walau entah darimana. Namun ingat, jalan di dunia ini banyak bukan hanya satu, jalan-jalan itulah yang akan dilalui hasil dari usaha kita. Jadi, mulailah beraksi dan tetaplah berusaha.

Setelah melalui beberapa langkah tadi, berarti kita telah berjalan. Setapak demi setapak langkahkan kaki kita dan teruslah berajalan walau pelan menuju mimpi-mimpim indah, pasti pada akhirnya kita akan meraihnya.