Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENYEMANGAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENYEMANGAT. Tampilkan semua postingan

Tetaplah Tersenyum Walau Dunia Sedang Murung

sumber foto: www.senyumlah.com
Di dalam dunia ini, cerah berbarengan gelap, terkadang silih berganti datangnya, kita harus mampu menerima keduanya. Jika tidak, atau hanya salah satunya yang kita terima, cerah dan gelap itu akan berwarna abu-abu, jika hanya cerah yang kita terima itu hanya menyilaukan mata kita, begitupun sebaliknya, jika hanya gelap yang kita terima itu hanya akan membutakan mata kita, olehnya itu keduanya diciptakan sama-sama, dan olehnya juga kita harus menerimanya dengan lapang dada, maksudnya kita tidak usah serius melihatnya, terima dan nikmati saja.

Cerah dan gelap itu adalah bahagia dan derita, tak bisa kita terlalu menginginkannya atau meratapinya, karena bahagia dan derita hanyalah hiasan belaka di kehidupan nyata. Sebagaimana hiasan yang kita punya di rumah, akan tampil cantik bila kita menempatkannya dengan baik, begitupun dengan bahagia dan derita, akan terasa nikmat bila kita menempetkannya di antara hati dan pikiran, letaknya ada pada senyuman, karena tersenyum adalah penyelaras keadaan bahagia dan derita.

Kita ambil contoh tentang cara penempatan bahagia dan derita di senyuman. Saat awan kelabu mulai menyambarkan petir dan guntur, maka jadilah hujan dan kedinginan, maka kita terasa menderita, akan tetapi, cobalah kita tempatkan derita itu dengan baik, misalkan mengambil segelas kopi lalu duduk manis di kursi, nikmati setiap seduhan hangatnya, maka hujan yang tadinya berbunyi gemuruh menjadi bunyi nada-nada sendu yang menemani duduk manis kita, nikmat bukan.

Begitupun dengan bahagia, kita harus jeli menempatkannya, agar mata kita tak disilaukan olehnya. Misalkan, saat kita baru bangun tidur dan membuka jendela kamar kita, terlihat matahari baru terbit setengah, akibatnya udara jadi hangat, agar kita tak terbuai oleh kehangatan itu, keluarlah dari kamar dan sapa orang-orang yang juga baru bangun dari tidurnya, indah bukan. Begitulah penempatan derita dan bahagia, kita tempatkan tepat pada senyum indah kita, senyum tulus kita, dan senyum keikhlasan kita dalam menerima.

Dari bahagia dan derita itu, dunia terkadang murung kepada kita, karena merasa tak ada yang mampu berpihak padanya, lebih jelasnya, kita merasa banyak sekali cobaan dan ujian yang kita hadapi di dunia ini ketimbang bahagia, itu tak masalah biarlah dunia murung, asalkan kita tetap tersenyum. Seperti halnya saat kita melihat film horor, bisa menjadi lucu saat kita tak mempedulikan hantu-hatunya, kita hanya mempedulikan adegan lucunya, maka dengan itu kita akan tertawa sepuasnya, begitulah cara kita untuk tetap tersenyum walau dunia sedang murung.

Akan tetapi, untuk tetap tersenyum saat dunia sedang murung bukan hal mudah untuk kita lakukan, kita harus cuek padanya dulu, karena antara tersenyum dan murung adalah dua keadaan yang saling besebrangan, karena itu kita harus cuek. Artinya tak perlu terlalu menggebu-gebu dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, tenang saja, air dilautan tak selamanya berombak, akan ada waktunya untuk tenang, yang baik untuk kita pakai berenang, melihat batu karang dan ikan-ikan yang indah menawan.

Dalam realiatanya kita lebih banyak berteman dengan sedih saat dunia sedang murung pada kita. Padahal, kesedihan kita tak akan berpengaruh pada kemurungan dunia, malah, dunia semakin murung karena ia juga sedih melihat kita, tapi cobalah untuk tersenyum maka dunia juga akan tersenyum, berbaik hatilah pada dunia maka ia akan membawamu ke surga, jangan menambah kesedihannya dengan air mata yang kita punya, beri ia kebahagiaan dengan senyum tulus padanya.

Oleh karena itu, mari teguhkan hati kita dan berusaha untuk selalu tersenyum walau dunia sedang murung. Karena kebahagiaan identik dengan senyuman, murungnya dunia bukan karena ia ingin membuat kita sedih, tapi ingin mengetahui diri kita bahwa kita akan tersenyum ikhlas padanya, dan lama ke lamaan senyum yang kita punya akan menjadi tawa, kemudian menjadi lebih damai, lalu berubahlah menjadi bahagia, serta semua itu tak bisa dibeli dengan uang atau harta benda, mahal harganya karena itu untuk mendapatkan bahagia butuh kesabaran dan waktu lama.

Bukan Tidak Bisa, Kita Hanya Belum Mencoba

sumber foto: www.news.liputan6.com
Bukan Tidak Bisa, Kita Hanya Belum Mencoba
Setiap keberhasilan yang dicapai seseorang adalah pembuktian dari percobaa-percobaan yang pernah dilakukannya sebelumnya. Keberhasilan yang diraihnya bukan hasil dari keburuntungan semata, tetapi telah lama menanggung pahit kerasnya yang pernah dilakukannya sebelumnya, hari ini kita bisa pintar membaca, karena hasil dari percobaan-percobaan kita sewaktu kecil dulu mengeja aksara, butuh waktu memang untuk menyebutnya dengan fasih tapi begitulah maunya untuk mencapai keberhasilan, belum lagi jika kita berbicara tentang menulisnya. Itu jauh lebih rumit bukan.

Percobaan inilah yang terkadang menghantui kita. Kita sebenarnya telah bisa menaiki anak tangga yang kedua, tetapi hantu percobaan itu datang dengan sendirinya dalam pikiran kita, akibatnya kita tak bisa melangkah ke tangga kedua, karena kita harus lari dari hantu percobaan tersebut. Kenapa kita harus lari, padahal cobaan itu tak menggigit, untuk itulah kita harus mencoba se-segera mungkin.

Untuk menepis hantu percobaan yang biasa menghantui kita, caranya adalah dengan memperkuat mental pejuang yang ada dalam diri kita dengan membakar emosi semangat, dan mengatakan bahwa saya bisa mencobanya. Tak perlu kita pikirkan efek samping dari percobaan yang kita lakukan, pokoknya kita coba saja dulu, soal kegagalan biar proses yang menghapusnya, dan mental pejuang itu dapat terbangun melalui keyakinan yang kokoh dalam diri kita, yang mampu membendung terjangan-terjangan keraguan yang akan meredupkan api semangat kita dalam melakukan percobaan mewujudkan cita-cita yang kita impikan.

Pupuklah terus benih semangat kita dalam mewujudkan cita-cita yang telah tumbuh dalam hati kecil kita. Biarkan Ia berkembang dan menjalar kemana-mana, menumbuhi setiap sendi-sendi emosi yang ada dalam diri kita, maka emosi yang ada dalam diri kita tumbuh subur yang tetap kokoh diterpa badai dan dijatuhi butir hujan, terus membuah dan tumbuh tinggi, sehingga hantu percobaan tak bisa menguliti emosi kita karena telah tumbuh kuat mengakar dalam tanah.

Jika sekarang kita telah mundur dari percobaan pertama, sama saja kita telah menarik diri kita sendiri pada lubang kegagalan yang sangat dalam, yang dari lubang itu kita tak bisa naik ke permukaan, dan tak bisa bernafas dalam lubang kegagalan itu, semuanya terasa sesak dan gerah, kita hanya bisa tersimpuh resah dalam lubang kegagalan itu. Maka jangan pernah mundur dari percobaan-percobaan yang ingin kita lakukan, jika kita tak ingin merasakan penyesalan di hari kemudian, penyesalan memang datangnya dari belakang dan juga telah datang di awal percobaan kita. Jika kita berhasil dan terus mencoba maka penyesalan itu akan pergi dan menghilang.

Butuh banyak daun yang harus gugur untuk menghasilkan pucuk bunga yang baru lagi. Begitu pun dengan percobaan dalam mewujudkan cita-cita kita, butuh banyak kegagalan yang harus gugur untuk menghasilkan pucuk keberhasilan dan butuh banyak waktu yang berputar mengelilingi percobaan kita, yang pada akhirnya percobaan kita berhenti pada satu waktu--satu waktu keberhasilan.

Percobaan-percobaan yang kita lakukan tak ubahnya seperti melempar baru ke lautan yang luas dan dalam. Kita tak pernah tahu kapan batu yang kita lemparkan itu kita temukan jika kita berenang mencarinya. Tapi, percayalah semakin banyak batu yang kita lempar ke dalam lautan maka semakin banyak kemungkinan untuk mendapatkannya jika kita berenang mencarinya, hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah jika kita berenang mencarinya. Maksudnya adalah, kita harus selalu berusaha mencari keberhasilan dalam setiap percobaan.

Jadi, bila sekarang kita masih belum merasakan manisnya keberhasilan, teruslah mencoba. Karena di dalam semua percobaan ada titik kecil keberhasilan, yang bila telah terkumpul menjadi banyak, titik keberhasilan itu akan terliha besar, di saat itulah keberhasilan yang menyertai kita, keberhasilah yang kita pungut dalam waktu lama dari hasil dari tetesab keringat sendiri. Untuk itu kita bukan tidak bisa tapi hanya kita belum mencoba.

Luka Itu Menyembuhkan

sumber foto: www.imyryani.wordpress.com
Sakit yang begitu perih kita rasakan saat kita terluka. Entah luka fisik ataupun luka fisikis, saat kita mengalaminya kita begitu resah dan mengatakan kenapa semua ini harus terjadi padaku, apalagi jika perihnya tak tertahankan, karenanya kita mengalami strees berat, dan membuat kita lupa dimana kita berpijak, kita lupa dimana kita terlahir, serta kita lupa dimana kita hidup dan terkuburkan nantinya. Jawabannya satu, itu di dunia yang sangat sementara ini, untuk itu, bersabarlah sedikit, rasakan perihnya lukamu dengan hati.

Luka bisa saja terasa manis bila kita mencapurnya dengan gula keiklasan. Walau luka itu terasa pahit, seakan meminum segelas kopi tubruk yang tak ada gulanya, akan tetapi bila kita menaburinya dengan gula, segelas kopi tubruk itu akan terasa lezat, begitupun dengan luka yang kita rasakan, akan terasa lezat dan nikmat bila kita menaburinya dengan gula keikhlasan, ikhlas menerima luka itu, dan berusaha mengobatinya dengan berbuat yang lebih baik kepada orang lain, karena kita percaya ada Allah swt yang mengatur perputaran kehidupan ini.

Lebih jauh lagi kita memahami sebuah luka yang teriris di diri atau di hati kita. Tahukah Anda bahwa luka itu menyembuhkan, contohnya : kita pernah menginjak semut, lantas membuatnya mati padahal, saat kita menginjaknya semut itu sedang dalam mencari makanan untuk anak-anaknya, jadi wajarlah dikemudian hari ada seeokar semut juga yang menggigit kita, dari gigitannya kita menyadari perihnya. Saat kesadaran itulah kita menjadi sembuh, sembuh dari sifat tamak dan angkuh dan tak ingin mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Tak ada manusia yang tak pernah terluka, karena kita diciptakan di dunia untuk melakukan perjalanan ke negeri yang abadi, karena kita berjalan pasti ada banyak hal yang melukai kaki kita. Akan tetapi, jangan pernah berhenti teruslah berjalan karena luka itu akan sembuh dengan sendirinya, saat udara segar dalam perjalanan kita menerpanya, membuat luka yang tadinya basah akan menjadi kering dan sembuh.

Tentu, luka yang dimaksud disini adalah ujian dan cobaan yang kita alami dalam kehidupan, saat kita menghadapinya cobalah dengan berpikir bijak, dan melihat ujian dan cobaan itu dari berbagai sisi, banyak-banyaklah melihat sisi baiknya jangan terbuai oleh sisi buruknya, karena pada dasarnya sisi baik akan menghantarkan kita pada pola pikir yang baik pula. Olehnya itulah syukurilah jika kita sedang terluka, karena pada saat itu kita akan belajar berpikir bijak dalam menghadapi suatu permasalah hidup.

Jangan menganggap luka hanya terdiri dari sakit dan perih. Karena sakit dan perih hanyalah kulit luar dari sebuah luka, namun jauh di dalamnya tersimpan kenikmatan yang akan kita rasakan jika luka itu telah sembuh. Seperti ganasnya ombak, di belakangnya ada laut yang tenang dan pulau yang indah, luka dan perih hanyalah sebuah ilusi dunia yang membuat manusia cengeng dan selalu ingin dimanja-manja dengan kenikmatan, sakit dan perih itu jugalah yang membuat kita melenceng dari kebenaran karena kita takut mendapatkan luka dan keperihan.

Maka, jika kita ingin kuat dalam hidup ini banyak-banyaklah terluka, teriris dan kesakitan. Karena sebenarnya kita hanya bisa menerima luka, dan tak akan mampu melukai. Tentu Anda sudah mengetahui bahwa luka yang saya maksud adalah ujian dan cobaan Allah swt, dan jangan pernah menangis ataupun mengeluh jika kita terluka, karena itu hanya akan membuat diri kita semakin lemah, teruslah berjuang dan jangan pernah menyerah.

Teruslah Berjalan, Walau Pelan


sumber foto: www.lifestyle.liputan6.com

Hari ini dan seterusnya sampai nanti adalah perjalanan kita sendiri, menuju pada hidup yang abadi setelah mati. Masihkah kita menyianyiakan hidup yang singkat ini, menyepelekannya seakan kita akan hidup selamanya. Tidak, tengoklah ketika hujan turun, kita tak ingin berbasah-basah di bawahnya, padahal itu cuma air, kita mencari tempat untuk berteduh bukan, begitulah juga kita dalam menjalani hidup ini, pasti kita akan dibasahi cobaan dan ujian tetapi, bermanfaatlah kepada sesama di tengah ketabahanmu menghadapi ujian itu.

Di dalam sebuah perjalanan, tak ada suasana yang betul-betul sama semua berbeda. Terkadang kita menemui bunga, terkadang kita menemui lubang atau terkadang kita menemui kedua-duanya. Soal indah tidaknya suasana itu tergantung kita yang menilainya, cara menilainya harus bagus, yaitu dengan mensyukurinya. Karena itulah hidup adalah perjalanan, ada banyak suasana yang mengganggu hati kita, namun, ada banyak suasana juga yang membuat hati kita jadi bahagia. Jadi, sabar dan syukur adalah penyelarasnya.

Allah swt telah menyediakan apa yang seharusnya kita kembangkan, untuk kita manfaatkan sebagai alat kesinambungan kehidupan. Dalam mengembangkannya kita harus terlebih dahulu mempunyai mimpi, mimpi yang besar dan tinggi, agar kita tidak berleha-leha dalam meraihnya, jika mimpi kita kecil dan pendek, kita tak butuh banyak perjuangan untuk meraihnya, akibatnya hasilnya pun sama dengan apa yang kita perjuangkan. Maka susunlah mimpi-mimpi karena batu batanya sudah, tinggal kita yang akan menyusunnya, menjadi sebuah bangunan yang berguna bagi manusia.

Adapun langkah awal yang harus kita punya adalah niat yang tulus. Tulus pada apa yang kita korbankan demi kepada sebuah perbaikan, karena niatlah yang akan membawa kita pada keberkahan dunia dan di akhirat kelak. Niat yang tulus juga yang akan menuntut kita pada pekerjaan yang tak melelahkan, karena kita bekerja, berkarya untuk kebakan bukan pada imbalan, kalau pun harus ada imbalan itu hanya penunjang bukan tujuan.

Langkah ke dua adalah kesadaran yang kuat pada mimpi kita. Kita harus menyadarinya bukan sebatas mimpi belaka, sadari diri kita tentang indahnya bila mimpi kita itu terjuwud, ada banyak senyuman yang akan kita lihat nanti, senyum haru dan bahagia menyelimuti hasil dari perjuangan kita. Keringat yang dulunya mengucur deras, terbayar menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan, tentu semua itu akan kita rasakan bila kesadaran akan mimpi kita itu tumbuh dan berkembang di dalam emosi kita, camkan baik-baik.

Langkah ke tiga buat rencana, rencana yang belum pernah dibuat oleh orang lain dalam mewujudkan mimpinya, mimpi kita boleh saja sama tetapi dalam mewujudkannya caramu harus beda, dengan caramu sendiri mimpi-mimpimu akan terwujud seperti apa yang kamu inginkan, tetapi, kita harus terlebih dahulu belajar dengan cara orang lain. Setelah itu rumuskan caramu sendiri, cara yang liar dan bebas tapi tidak merugikan orang lain. Cara itu bisa kita dapatkan melalui suara hati kecil kita, dengarlah apa yang dikatakannya.

Langkah ke empat mulailah beraksi, kejar dan gapailah mimpi-mimpi kita, seperti kita mengejar jambret yang mengambil barang berharga kita. Kita harus mengejarnya sampai dapat, kalau pun tak dapat, setidaknya kita telah berusaha untuk menggapainya, dan hasil dari usaha itu akan ada.gantinya, walau entah darimana. Namun ingat, jalan di dunia ini banyak bukan hanya satu, jalan-jalan itulah yang akan dilalui hasil dari usaha kita. Jadi, mulailah beraksi dan tetaplah berusaha.

Setelah melalui beberapa langkah tadi, berarti kita telah berjalan. Setapak demi setapak langkahkan kaki kita dan teruslah berajalan walau pelan menuju mimpi-mimpim indah, pasti pada akhirnya kita akan meraihnya. Hari ini dan seterusnya sampai nanti adalah perjalanan kita sendiri, menuju pada hidup yang abadi setelah mati. Masihkah kita menyianyiakan hidup yang singkat ini, menyepelekannya seakan kita akan hidup selamanya. Tidak, tengoklah ketika hujan turun, kita tak ingin berbasah-basah di bawahnya, padahal itu cuma air, kita mencari tempat untuk berteduh bukan, begitulah juga kita dalam menjalani hidup ini, pasti kita akan dibasahi cobaan dan ujian tetapi, bermanfaatlah kepada sesama di tengah ketabahanmu menghadapi ujian itu.

Di dalam sebuah perjalanan, tak ada suasana yang betul-betul sama semua berbeda. Terkadang kita menemui bunga, terkadang kita menemui lubang atau terkadang kita menemui kedua-duanya. Soal indah tidaknya suasana itu tergantung kita yang menilainya, cara menilainya harus bagus, yaitu dengan mensyukurinya. Karena itulah hidup adalah perjalanan, ada banyak suasana yang mengganggu hati kita, namun, ada banyak suasana juga yang membuat hati kita jadi bahagia. Jadi, sabar dan syukur adalah penyelarasnya.

Allah swt telah menyediakan apa yang seharusnya kita kembangkan, untuk kita manfaatkan sebagai alat kesinambungan kehidupan. Dalam mengembangkannya kita harus terlebih dahulu mempunyai mimpi, mimpi yang besar dan tinggi, agar kita tidak berleha-leha dalam meraihnya, jika mimpi kita kecil dan pendek, kita tak butuh banyak perjuangan untuk meraihnya, akibatnya hasilnya pun sama dengan apa yang kita perjuangkan. Maka susunlah mimpi-mimpi karena batu batanya sudah, tinggal kita yang akan menyusunnya, menjadi sebuah bangunan yang berguna bagi manusia.

Adapun langkah awal yang harus kita punya adalah niat yang tulus. Tulus pada apa yang kita korbankan demi kepada sebuah perbaikan, karena niatlah yang akan membawa kita pada keberkahan dunia dan di akhirat kelak. Niat yang tulus juga yang akan menuntut kita pada pekerjaan yang tak melelahkan, karena kita bekerja, berkarya untuk kebakan bukan pada imbalan, kalau pun harus ada imbalan itu hanya penunjang bukan tujuan.

Langkah ke dua adalah kesadaran yang kuat pada mimpi kita. Kita harus menyadarinya bukan sebatas mimpi belaka, sadari diri kita tentang indahnya bila mimpi kita itu terjuwud, ada banyak senyuman yang akan kita lihat nanti, senyum haru dan bahagia menyelimuti hasil dari perjuangan kita. Keringat yang dulunya mengucur deras, terbayar menjadi mutiara-mutiara yang berkilauan, tentu semua itu akan kita rasakan bila kesadaran akan mimpi kita itu tumbuh dan berkembang di dalam emosi kita, camkan baik-baik.

Langkah ke tiga buat rencana, rencana yang belum pernah dibuat oleh orang lain dalam mewujudkan mimpinya, mimpi kita boleh saja sama tetapi dalam mewujudkannya caramu harus beda, dengan caramu sendiri mimpi-mimpimu akan terwujud seperti apa yang kamu inginkan, tetapi, kita harus terlebih dahulu belajar dengan cara orang lain. Setelah itu rumuskan caramu sendiri, cara yang liar dan bebas tapi tidak merugikan orang lain. Cara itu bisa kita dapatkan melalui suara hati kecil kita, dengarlah apa yang dikatakannya.

Langkah ke empat mulailah beraksi, kejar dan gapailah mimpi-mimpi kita, seperti kita mengejar jambret yang mengambil barang berharga kita. Kita harus mengejarnya sampai dapat, kalau pun tak dapat, setidaknya kita telah berusaha untuk menggapainya, dan hasil dari usaha itu akan ada.gantinya, walau entah darimana. Namun ingat, jalan di dunia ini banyak bukan hanya satu, jalan-jalan itulah yang akan dilalui hasil dari usaha kita. Jadi, mulailah beraksi dan tetaplah berusaha.

Setelah melalui beberapa langkah tadi, berarti kita telah berjalan. Setapak demi setapak langkahkan kaki kita dan teruslah berajalan walau pelan menuju mimpi-mimpim indah, pasti pada akhirnya kita akan meraihnya.