Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENGEMBANGAN DIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PENGEMBANGAN DIRI. Tampilkan semua postingan

Selalulah Mengistimewakan Dirimu

sumber foto: www.sketsastra.blogspot.co.id
Cara yang terbaik untuk menyukai sesuatu adalah dengan mengistimewakannya. Coba kita perhatikan, saat isi dompet menipis dan tak bisa membeli tempe dan tahu, hanya kerupuk dan sambal yang bisa kita beli, kerupuk dan sambal itulah yang sangat kita istimewakan, tak peduli dengan lauk yang lain karena memang hanya itu yang bisa kita beli, maka saat kita menikmatinya terasa begitu lezat di lidah. Hal itu karena kita mengistimewakan kerupuk dan sambal tadi, dengan memberikannya tempat yang istimewa dalam hati kita, dalam singgasana bahagia.

Begitulah juga jika kita ingin mengembangkan diri, dengan memaximalkan segala potensi yang kita miliki, kita harus selalu mengistimewakan diri. Artinya kita harus mampu menempatkan diri kita tidak mengucilkannya atau merendahkannya, tempatkan diri kita pada rasa untuk selalu berjuang dan berusaha untuk yang kita cita-citakan, serta nyatakan bahwa diri saya istimewa karena belum tentu apa yang saya bisa, orang lain juga bisa. Tergantung bagaimana kita belajar dan mengistimewakan diri.

Namun, pengistimewaan diri bukan hanya soal merasa bisa, akan tetapi kita harus merasa tabah dalam setiap perjuangan, karena kita telah berkomitmen bahwa diri saya adalah istimewa berarti kita akan selalu merasa bisa, dan untuk mewujudkan perasaan merasa bisa kita harus selalu tabah, untuk itulah dalam mengistimewakan diri kita masih merasa bisa, untuk menjadi bisa kita perlu ketabahan. Jadi, dalam mengistimewakan diri kita harus juga selalu tabah dalam merasa bisa.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam mengistimewakan diri adalah tidak berlebih-lebihan dalam merasa bisa, kita harus mengetahui konteksnya dengan kemampuan kita, agar kita tidak bertindak konyol dalam mengistimewakan diri, hal itu sangat penting kita perhatikan karena jika tidak, keistimewaan diri hanya akan terbalik menjadi keterpurukan diri. Maka, sebelum kita ingin mengistimewakan diri kita harus mengetahui konteks lingkungan dengan kemampuan kita, karena sejatinya keistimewaan diri lahir dari olah pikir dan olah hati yang matang.

Seperti halnya martabak istimewa, ada perpaduan coklat dan adonan yang lembut yang membuatnya istimewa. Begitupun yang harus kita lakukan dalam mengistimewakan diri, padukan antara olah pikir dan olah hati, olah pikir itulah yang akan menjadi lezat seperti coklat dan olah hati itulah yang akan menjadi lembut seperti adonan martabak, jika kedua olah itu telah menyatu dengan baik maka keistimewaan diri kita akan tampak nyata, seperti martabak yang melebur begitu lezat saat telah sampai di lidah.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika telah mampu mengistimewakan diri, yaitu hidup dalam kelegaan. Kita akan selalu merasa lega karena diri kita istimewa, penyebabnya karena impian yang kita punya tak lagi menjadi penjanggal di hati karena kita telah merasa bisa untuk mewujudkannya atau dalam hal ini telah merasa istimewa di hadapan impian-impian kita tak terkucilkan ataupun tersingkirkan. Kita yakin pasti bisa menggapainya semua impia-impian itu karena diri kita telah menjadi istimewa.

Ketika kita selalu merasa istimewa, hal-hal yang susah akan menjadi mudah, hal-hal yang berat akan menjadi ringan, serta hal-hal yang suram akan menjadi bahagia. Hal-hal itu terjadi karena energi dari dalam diri kita keluar kemudian berubah menjadi energi percaya diri, di saat energi percaya diri inilah rasa istimewa terasa, walau terkadang pada akhirnya kita pun tak bisa. Akan tetapi coba rasakan saat energi percaya diri itu keluar, begitu mudahnya kita mengatakan saya bisakan.

Maka dari itu, mulai dari sekarang mari kita tingkatkan kesadaran dalam mengistimewakan diri, karena pada dasarnya tak ada ciptaan Allah swt yang sia-sia, semua punya berkah jika kita memanfaatkannya dengan baik, tinggal yang perlu adalah bagaimana cara kita mengolah keistimewaan diri kita masing-masing dan cara-cara itu hanya kita sendiri yang tahu, serta hanya kita sendiri yang harus melakukannya, karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita, mau tak mau kita harus mengistimewakan diri apapun alasannya.

Pahami Dirimu Sebagai Manusia

sumber foto: www.catatanharianhukum.blogspot.co.id
Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan, namun terkadang sampai sekarang kita belum memahaminya. Tentang semua fungsi organ tubuh kita, berfungsi sebagaimana mestinya, sudahkah kita merasakan fungsi itu dengan lebih nyata, merasakan lebih dalam mata kita untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, mulut kita untuk berbicara, tangan kita untuk menyentuh, dan kaki kita untuk melangkah. Secara otomatis kita telah memfungsikannya, tapi apakah kita telah tahu rasanya saat semua itu berfungsi, jika kita masih betanya-tanya, maka renungilah dengan akal dan hati kita.

Contoh sederhananya begini, lihatlah seekor sapi, tatap baik-baik sapi itu, lalu pikirkan dalam hati kita bahwa saya sekarang sedang melihat, dengan begitu kita dapat merasakan fungsi mata kita, lakukan juga pada organ tubuh yang lain, secara terus menerus dengan begitu kita dapat memahami esensi diri kita sebagai manusia. Jika esensi kemanusiaan dalam diri kita telah bisa pahami, maka yakin dan pasti kita tak akan melakukan perbuatan di luar esensi kemanusiaan kita, karena saat kita merasakannya, kita akan memahami betapa berharga karunia Allah swt.

Sifat kemanusiaan jauh lebih murni dari sifat malaikat, tapi jika itu tak difungsikan dengan baik, sifat kemanusiaan yang kita miliki jauh lebih ternoda dari sifat iblis. Tentu kita telah memahami itu bersama, namun, frase tentang manusia adalah tempat kesalahan seringkali kita jadikan tempat perlindungan untuk membenarkan kesalahan yang kita lakukan, padahal yang kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan saat kita mengalami ketidaksadaran. Akankah kita ingin terus-terusan menjadi orang yang tidak sadar .

Kesadaran terlahir dari pemahaman yang mendalam. Jadi, jika kita ingin menjadi orang yang sadar, terlebih dahulu pahami diri kita sebagai manusia, kita paham bahwa kebaikan harus kita lakukan, namun terkadang kita sendiri yang tidak mematuhinya. Apakah itu dapat dikatakan sudah paham, tentu belum, sebagaimana saat kita berhitung satu ditambah satu sama dengan dua, tapi terkadang kita menjumlahkan satu ditambah tiga hasilnya juga satu, jika jawaban kita begitu berarti kita belum paham kan.

Untuk memahaminya kita harus melakukan proses yang panjang dan tak mudah. Sebagaimana saat kita ingin memahami cara kerja sebuah rumus matematika, kita harus memahami terlebih dahulu simbolnya-simbolnya, dan memaknainya sebagai angka, agar kita dapat menghitungnya, lalu kita dapat menemukan jawaban pastinya. Begitulah juga proses dalam memahami diri kita sebagai manusia, banyak langkah-langkahnya dan langkah-langkahnya itu adalah kehidupan itu sendiri.

Kehidupanlah yang membuat kita menjadi paham tentang arti sebuah kemanusiaan, yang di dalamnya ada saling berbagi, saling menghargai, saling membantu, saling mencintai, saling memberi kedamaian, serta saling-saling yang baik yang lainnya, bukan saling-saling yang merugikan orang lain. Jadi jika kita ingin memahami arti sebuah kemanusiaan, isilah terus kehidupan dengan kebaikan, percalah akhirnya nanti kita akan memahaminya sendiri.

Adapun langkah awal dalam memahami esensi diri kita sebagai manusia adalah menjadi diri sendiri. Tak perlu kita menjadi seperti orang lain, karena kalau pun kita menjadi orang hebat seperti dia, pada hakikatnya kita belum menjadi orang hebat karena telah meniru orang lain, tak seperti halnya bila kita menjadi diri sendiri, walau yang kita punya sederhana, tapi pada hakikatnya kita tetap hebat karena kita tak meniru orang lain, langkah awal itulah yang harus segera kita mulai. Ayo mulai dari sekarang.

Memulainya dari sekarang, dan seterusnya sampai ke masa yang akan datang. Seterusnya kita akan memahami diri kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah swt dan sebagai khalifah di bumi Allah swt, karena itu di pundak kita terpikul sebuah amanah, amanah diri kita sendiri menjadi manusia. Maka, berat tidaknya sebuah amanah yang kita pikul ini, tergantung dari kita, apakah tak merasa bodoh diri kita, jika yang memikulnya adalah kita sendiri, sedangkan yang memberatkannya adalah kita sendiri juga, konyol bukan, jelasnya adalah pahami diri kita sebagai manusia.

Jadikan Kepribadianmu Seperti Sifat Air

sumber foto: www.qubbikel.com
Jadikan Kepribadianmu Seperti Sifat Air
Bukan hal yang anyal bagi kita, jika air adalah sebuah elemen yang harus ada dan tidak boleh tidak. Air merupakan sumber kehidupan yang tak bisa terbantahkan hadirnya, betapa kering segalanya tanpa air yang membasahi ruang-ruang kehidupan, karena itu di dalam diri manusia, elemen yang bersifat air lebih banyak dalam diri manusia. Namun, sudah berfungsikah air dalam diri kita, untuk menyegarkan, untuk menyejukkan, dan untuk menyuburkan emosi baik dalam diri kita.

Seperti air di lautan, bisa saja kelihatannya tenang tanpa ada ombak. Namun ketahuilah air yang seperti itu di bawahnya sangat dalam lebih dalam yang kita perkirakan, dari sifat air itulah kita jadikan kepribadian, kita harus selalu tenang dalam menyikapi segala problema kehidupan, janganlah kita berombak tanpa ada angin kencang meniup kita, dan cara untuk selalu tenang dalam menyikapi problema hidup adalah dengan membekali diri kita dengan ilmu dan pengetahuan dari segala pandangan, karena begitulah air yang ada di lautan, asalnya banyak dan tertampung di tengah lautan, dan jadilah air lautan yang sangat dalam.

Adapun sifat air yang lain adalah selalu mengalir dari sumbernya, seperti air yang ada di pegunungan, setiap benda yang dilaluinya pasti merasakan basah, kesejukan, dan kesegaran. Dari sifat air itulah kita dapat menjadikannya kepribadian, kita harus selalu mengalir dengan kebahagiaan dan cobaan, karena hal itu berasal dari sumber kita--Allah swt, dan setiap perjalanan kita dalam kehidupan ini, harus selalu memberi kesejukan kepada orang lain, dengan cara memberi yang kita punya, walau hanya senyuman dan tutur kata yang baik.

Bukankah kita sangat rindu dengan rintik hujan, ketika kita mengalami kemarau yang berkepanjangan, begitu resah hati kita saat rintik hujan yang kita tunggu tak kunjung datang. Itulah sifat air yang lain, menjadi seseorang yang dirindukan layaknya rintik hujan ketika musim kemarau datang, namun, untuk melakukannya kita harus jernih dan bening, jauh dari sifat bohong, angkuh, tamak dan semacamnya, karena begitulah air yang dirindukan, kita pasti tak merindukannya ketika air itu busuk dan kotor kan.

Akan tetapi, bukan berarti semua sifat air harus kita jadikan kepribadian, karena air juga mampu melululantakkan suatu perkampung, seperti yang terjadi saat banjir, karena massa air terlalu banyak yang didukung oleh dorongan badai. Artinya, kita tak bisa jadikan sifat air saat banjir menjadi kepribadian, karena hanya dapat mendatangkan keresahan, akibat banyaknya kebanggaan yang kita dapat dan didorong oleh keinginan hawa nafsu belaka, seperti penyebab terjadinya banjir.

Namun, di satu sisi kebanyakan sifat air itu, selalu mencari tempat terendah, walau sebenarnya Ia sangat dibutuhkan, air selalu mengalir dari daratan tinggi ke dataran terendah. Maka, jika kita ingin jadikan kepribadian sifat air itu, kita harus selalu merasa rendah hati, tak ingin disebut sebagai orang hebat, walau orang-orang yang ada disekeliling kita menganggap diri kita sebagai orang hebat atas apa yang kita bisa dan punya, karena begitulah air walau jatuh tercipta di langit, tapi Ia selalu mencari tempat terendah di bumi.

Betapa segar orang-orang yang ada di sekeliling kita, bila kepribadian kita seperti sifat air yang menyejukkan, menyegarkan, dan menyuburkan. Kita selalu bermanfaat bagi orang lain, seperti air yang meredakan rasa haus, yang membersihkan segala yang kotor, dan memadamkan yang terbakar, kita akan selalu bermanfaat ke setiap langkah kehidupan yang kita lalui dan akan selalu membasahi ruang-ruang yang kering.

Namun, sifat air yang utama adalah cair, tak pernah bisa di pegang dan tak pernah bisa diubah wujudnya, tak seperti dengan benda-benda yang lain bisa dirubah sesuai dengan keinginan kita. Namun air tidak, walau kita membekukannya lama ke lamaan akan mencair juga akhirnya, itulah sifat air yang utama, yang harus kita jadikan kepribadian. Artinya dalam menjalani kehidupan yang sebentar ini, kita harus bermanfaat kepada orang lain dengan ikhlas, kita hanya mengharap ridhonya, agar kehidupan yang sebentar ini tak menjadi kehidupan yang sia-sia.

Terbanglah Setinggi Mungkin dan Jangan Takut Ketinggian

sumber foto: www.favim.com
Betapa indah burung-burung yang terbang tinggi di atas sana, Ia bebas melayang jauh melintasi benua dan menembus samudera, tidakkah kita ingin seperti burung-burung itu, yang melihat langsung keindahan warna pelangi. Jika iya, terbanglah juga setinggi mungkin yang kita bisa, raih semua impian dan cita-cita dan tetaplah memohon ridho Allah swt, karena ridho-Nya yang menjadi sayap kita terbang, merasakan kelembutan awan dan hangat bulan, maka, mari kita terbang tinggi bersama impian kita, kemudian hinggap pada yang kita inginkan.

Semua hal berawal dari niat, jika memang niat awal kita untuk terbang bersama impian kita, lakukan segera. Jangan tunggu angin tenang atau menunggu badai reda, karena itu hanya akan memperlambat gerak kita dan tak mempengaruhi penerbangan kita, jika memang niat kita untuk terbang tinggi, rintangan apapun yang akan kita temui, semuanya akan kita hadapi, tak peduli petir dan angin topang, selama kaki kita kuat mencengkram, terjatuh pun kita bangun lagi, dan terbang tinggi lagi.

Mungkin nyali kita seketika mengecil ketika kita tengadahkan wajah kita ke hamparan langit biru. Anggapakan kita sungguh itu sangat jauh, tak mungkinlah rasanya bila kita terbang di atas sana. Begitupun ketika kita melihat seseorang yang sama dengan impian kita, telah lebih dahulu terbang dengan impiannya dan telah mendapatkan pijar bintang, hentikanlah ketidakmungkinan itu, jangan biarkan merasuki otakmu, karena pada dasarnya Ia terbang karena punya sayap, kita pun punya, tapi mungkin sampai hari ini kita belum memakainya untuk terbang.

Maka, untuk terbang tinggi atau dalam hal ini berbahagia ketika meraih impian dengan cita-cita, gunakan sayap baik-baik dan latihlah menghempaskan sayap-sayapnya, rawat bulu-bulunya agar tak rontok ketika di udara. Untuk terbang jauh kita harus mencari gunung yang tinggi sebagai landasan pacu. Jadi, sebelumnya kita harus memulai dari bawah impian kita kemudian mendaki sedikit demi sedikit, sampai pada puncak gunung itu, jika kita telah berada di atasnya, meluncurlah dan hempaskan sayap-sayap kita.

Hal yang perlu diingat ketika kita telah terbang tinggi adalah jangan takut ketinggian. Maksudnya, ketika kita telah berada pada impian kita, pasti ada banyak kegagalan yang setia saat selalu mengintai, untuk itu jangan takut pada kegagalan atau dalam hal ini ketinggian, karena ketika kita telah terbang walau jaraknya sangat tinggi kita akan tetap bisa bernafas, gunakan udara di atas langit itu untuk kita terbang lebih tinggi. Bahkan, jika badai menerjang kita akan terhempas dan terbang lebih jauh lagi.

Ingatlah selalu warna-warna indah sebuah pelangi yang terlukis di langit biru. Maksudnya adalah bayangkan selalu jika kita telah mendapatkan kebahagiaan dunia dan semoga juga di akhirat kelak, senyum, tawa, haru gembira berbaur menjadi satu, satu kebahagiaan kita, jika kita telah terbang tinggi nantinya. Itu pasti kita mendapatkannya jika kita telah menggunakan sayap kita untuk terbang sebagaimana mestinya atau lebih jelasnya adalah terbang jauh dan tak melupakan daratan, tempat kita bernaung kala gelap malam datang.

Mari, mulai hari ini dan seterusnya nanti, janjikan dalam hati bahwa kita akan terbang tinggi, jauh di atas bumi. Sayap-sayap kita lebar, kemana pun kita ingin terbang, sayap kita akan tetap kuat menopang, karena kita terbang bukan sendirian, ada banyak harapan dan doa yang mengekor di belakang kita. Doa dan harapan Orang tua kita selalu mengiringi jauh ke atas sana, untuk itulah terbanglah jauh sejauh yang kita bisa dan jangan pernah takut akan ketinggian.

Akan tetapi, sesekali kita harus menoleh ke bawah. agar kita tahu bahwa masih banyak orang-orang di bawah sana yang juga ingin terbang tinggi. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan kita jika sekarang, sayap kita telah berkibar jauh di samping awan. Jika kita sudah menguasai sayap kita, kita akan bisa membantu orang yang ada di bawah sana untuk terbang juga, maksudnya adalah jika kita telah ahli mengarahkan mimpi kita, orang-orang yang sama dengan impian kita bisa membatunya juga untuk terbang tinggi.

Agar sayap kita bisa selalu kuat untuk terbang, selalulah berdoa pada Allah swt, karena kehendak-Nyalah yang menentukan terwujud atau tidaknya suatu impian, namun, doa dari mulut kita belumlah cukup, perlu doa dari usaha kita. Doanya adalah bekerja ikhlas demi bermanfaatnya impian kita pada orang lain, karena usaha yang tak ikhlas hanya seperti sungai yang kering, jauh memanjang namun tak ada airnya, oleh karena itu jangan pernah merasa besar di hadapan-Nya karena hanya Allah swt yang Maha Besar, impian kita tak lebih dari sebuah pemanfaatan karunia yang diberikan-Nya untuk mencari keberkahan.

Keberkahan hidup seperti awan lembut dan empuk. Jika kita berada di atasnya seakan ketenangan nyata bagi kita, segar menyegarkan, untuk itulah kita terbang ke hamparan langit biru, agar embun dari awan-awan yang jatuh dari langit langsung membuat kita luluh pada kebahagiaa. Maka terbanglah, raih segalanya yang kita impian dan  Jangan takut ketinggian.

Berhenti Menutup Diri, Ayo Kenali Jati Diri


sumber foto: www.adjiegunt.blogspot.com
Jika ada orang yang bertanya tentang jati dirinya, menurut saya itu salah, jati diri pada diri seseorang itu sudah ada, masalahnya itu hanya berada pada pengenalan jati diri. Jika kita telah mampu mengenali jati diri kita, kita akan mampu lebih mengetahui peran dan fungsi kita dalam kehidupan ini, karena jika tidak, kita bagikan seonggok batu rapuh yang semakin hancur ditiup angin, jati diri adalah bekal dari Allah swt yang harus kita manfaatkan ke arah kebaikan menuju jalan yang diridhoinya, bukan sebaliknya.

Namun, jangan harap jati diri kita akan muncul bila diri kita hari ini masih tertutup, maksudnya kita jauh dari kebebasan berfikir, terlalu kaku dalam menghadapi setiap problema kehidupan yang sedang kita alami, padahal ini hanya dunia santai saja, santai dalam hal ini adalah tidak memusingkan sesuatu yang dirasa tidak perlu dipusingkan, karena itu hanya akan menambah beban. Akibatnya, diri kita selalu menghindar dari masalah atau selalu menutup diri.

Janganlah seperti siput, dirinya sangat tertutup, alhasil gerak hidupnya lambat, tak ada perubahan dalam hidupnya hanya menghitung hari mengganti cangkangnya. Walau, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tetap, sikap menutupi diri akan semakin menjauhkan kita pada menganali jati diri, dan membuat kekurangan kita semakin bertambah serta, membuat kelebihan kita semakin berkurang, betapa rileksnya kita saat semua yang telah Allah swt anugrahi ini kita syukuri dengan cara tidak menutup diri, dan mengenali jati diri kita yang sesungguhnya.

Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam mengenali jati diri adalah lihat baik-baik agar kita tidak tertipu, maksudnya apakah yang kita kenal adalah sudah diri kita yang sesungguhnya, atau hanya sekadar ego yang menjelma. Jika ego berhentilah, itu bukan diri kita, cirinya-cirinya jika kita telah mengenal jati diri kita adalah kita tak merasa berat melakukan segala hal yang kita inginkan dalam artian postif, atau tidak kehilangan stabilitas jiwa.

Jati diri pun berfungsi sebagai penentu jalan hidup kita. Jika jalan hidup yang kita pilih menjadi dokter misalkan, maka tentu sebelumnya jati diri kita memang menginginkan menjadi seperti itu. Tinggal, usaha kita mengisi jalan hidup itu dan membuat jati diri kita semakin bersemangat dalam menjalaninya, jika diibaratkan jati diri ini bagaikan saudara kembar yang sangat akrab, saking akrabnya mereka saling melengkapi ke arah yang benar, tentu jika kita mengenalinya, rupanya, tubuhnya, matanya, kepalanya, kakinya dan seterusnya, artinya. kenali semua apa yang ada di dalam jati diri kita.

Setelah mengenalnya lalu apa lagi?, setelah adanya sebuah perkenalan ada jalinan yang terhubung antara keduanya, jalinan itu bisa saja putus bisa saja terus menyambung. Maksudnya, kita dengan jati diri kita bisa saja tidak berhubungan walau sudah mengenal, karena kita tidak menuruti keinginannya, tak ada keinginan dari jati diri itu jelek atau tidak baik, semuanya baik karena terlahir dari dasar hatimu dan itulah yang menghidupkannya.

Manusia sejati adalah manusia yang telah mampu mengenal jati dirinya sendiri. Kenapi sejati ? Karena Ia telah mampu mengenal dirinya ,yang sesungguhnya, maka dari itu berhentilah menutupu diri, kenali jati diri dan wujudkanlah mimpi-mimpi kita.