Pahami Dirimu Sebagai Manusia

sumber foto: www.catatanharianhukum.blogspot.co.id
Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan, namun terkadang sampai sekarang kita belum memahaminya. Tentang semua fungsi organ tubuh kita, berfungsi sebagaimana mestinya, sudahkah kita merasakan fungsi itu dengan lebih nyata, merasakan lebih dalam mata kita untuk melihat, telinga kita untuk mendengar, mulut kita untuk berbicara, tangan kita untuk menyentuh, dan kaki kita untuk melangkah. Secara otomatis kita telah memfungsikannya, tapi apakah kita telah tahu rasanya saat semua itu berfungsi, jika kita masih betanya-tanya, maka renungilah dengan akal dan hati kita.

Contoh sederhananya begini, lihatlah seekor sapi, tatap baik-baik sapi itu, lalu pikirkan dalam hati kita bahwa saya sekarang sedang melihat, dengan begitu kita dapat merasakan fungsi mata kita, lakukan juga pada organ tubuh yang lain, secara terus menerus dengan begitu kita dapat memahami esensi diri kita sebagai manusia. Jika esensi kemanusiaan dalam diri kita telah bisa pahami, maka yakin dan pasti kita tak akan melakukan perbuatan di luar esensi kemanusiaan kita, karena saat kita merasakannya, kita akan memahami betapa berharga karunia Allah swt.

Sifat kemanusiaan jauh lebih murni dari sifat malaikat, tapi jika itu tak difungsikan dengan baik, sifat kemanusiaan yang kita miliki jauh lebih ternoda dari sifat iblis. Tentu kita telah memahami itu bersama, namun, frase tentang manusia adalah tempat kesalahan seringkali kita jadikan tempat perlindungan untuk membenarkan kesalahan yang kita lakukan, padahal yang kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan saat kita mengalami ketidaksadaran. Akankah kita ingin terus-terusan menjadi orang yang tidak sadar .

Kesadaran terlahir dari pemahaman yang mendalam. Jadi, jika kita ingin menjadi orang yang sadar, terlebih dahulu pahami diri kita sebagai manusia, kita paham bahwa kebaikan harus kita lakukan, namun terkadang kita sendiri yang tidak mematuhinya. Apakah itu dapat dikatakan sudah paham, tentu belum, sebagaimana saat kita berhitung satu ditambah satu sama dengan dua, tapi terkadang kita menjumlahkan satu ditambah tiga hasilnya juga satu, jika jawaban kita begitu berarti kita belum paham kan.

Untuk memahaminya kita harus melakukan proses yang panjang dan tak mudah. Sebagaimana saat kita ingin memahami cara kerja sebuah rumus matematika, kita harus memahami terlebih dahulu simbolnya-simbolnya, dan memaknainya sebagai angka, agar kita dapat menghitungnya, lalu kita dapat menemukan jawaban pastinya. Begitulah juga proses dalam memahami diri kita sebagai manusia, banyak langkah-langkahnya dan langkah-langkahnya itu adalah kehidupan itu sendiri.

Kehidupanlah yang membuat kita menjadi paham tentang arti sebuah kemanusiaan, yang di dalamnya ada saling berbagi, saling menghargai, saling membantu, saling mencintai, saling memberi kedamaian, serta saling-saling yang baik yang lainnya, bukan saling-saling yang merugikan orang lain. Jadi jika kita ingin memahami arti sebuah kemanusiaan, isilah terus kehidupan dengan kebaikan, percalah akhirnya nanti kita akan memahaminya sendiri.

Adapun langkah awal dalam memahami esensi diri kita sebagai manusia adalah menjadi diri sendiri. Tak perlu kita menjadi seperti orang lain, karena kalau pun kita menjadi orang hebat seperti dia, pada hakikatnya kita belum menjadi orang hebat karena telah meniru orang lain, tak seperti halnya bila kita menjadi diri sendiri, walau yang kita punya sederhana, tapi pada hakikatnya kita tetap hebat karena kita tak meniru orang lain, langkah awal itulah yang harus segera kita mulai. Ayo mulai dari sekarang.

Memulainya dari sekarang, dan seterusnya sampai ke masa yang akan datang. Seterusnya kita akan memahami diri kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah swt dan sebagai khalifah di bumi Allah swt, karena itu di pundak kita terpikul sebuah amanah, amanah diri kita sendiri menjadi manusia. Maka, berat tidaknya sebuah amanah yang kita pikul ini, tergantung dari kita, apakah tak merasa bodoh diri kita, jika yang memikulnya adalah kita sendiri, sedangkan yang memberatkannya adalah kita sendiri juga, konyol bukan, jelasnya adalah pahami diri kita sebagai manusia.

Previous
Next Post »
17 Komentar
avatar

artikel pengembangan diri yang mantap gan

Balas
avatar

Makasih min bermotivasi banget buat saya :D

Balas
avatar

Suka nih ane artikel yang begini, sukses terus gan

Balas
avatar

Saya setuju dengan salah satu quote ini gan.. "Maka, berat tidaknya sebuah amanah yang kita pikul ini, tergantung dari kita, apakah tak merasa bodoh diri kita, jika yang memikulnya adalah kita sendiri, sedangkan yang memberatkannya adalah kita sendiri juga, konyol bukan, jelasnya adalah pahami diri kita sebagai manusia." Memang manusia itu, dia sok pintar. Dia sok jago matematika. Dia menghitung-hitung. Dia gunakan logikannya yang sudah diasahnya sedari kecil. Hinggal menghasilkan nilai-nilai yang membuatnya merasa benar. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Salam penulis, Reza Andana.

Balas
avatar

Woahh keren gan haha quotesnyan(y)

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

Ok gan, terima kasih atas kunjungannya. Salam dan sukses selalu

Balas
avatar

artikel pengembangan diri yang bagus gan

Balas
avatar

sangat menginsipirasi bgt

Balas
avatar

Artikel yang sangat inspiratif.. Mantap :)

Balas